Kamis, 10 Maret 2016

UNGGAH-UNGGAHAN 
“TRADISI YANG PENUH MAKNA”


oleh : Solichun, S.Ag

Unggah-Unggahan berasal dari kata  “munggah” dalam bahasa Indonesia “naik”,bentuk tradisi  yang sudah dilakukan oleh kaum Nahdliyin bertahun-tahun sebagai wujud rasa senang dan bersyukur kepada Allah  untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan,dengan cara mengadakan slamatan  mengundang tetangga ,kerabat untuk bersama-sama menikmati hidangan.makanan yang disediakan juga terbagi 2 yaitu makanan yang dihidangkan ditempat dan makanan yang dibawa pulang ke rumah..dalam istilah almarkhum al-maghfurlah..KH.Zaeni Nadhif “legowo” di leg ada dan di gawa ada “
                Secara legalitas hokum sya’ra memang tidak ada perintah  dari Allah melalui al-qur’an  dan perintah RAsul melalui Hadis tentang perintah unggah-unggahan menyambut bulan suci Ramadhan ,namun dalam tradisi unggah-unggahan tersirat banyak tuntunan  diantaranya
1.       Menyambut Bulan Ramadhan dengan memperbanyak kebaikan
Awal bulan rajab Rasulullah menganjurkan agar memohon kepada Allah diberikan keberkahan di bulan rajab dan Sya’ban ,dalam istilah agama yakni زِيَادَةُ الخَيْرِ “menambah kebaikan”
للهم بارك لنا فى رجب و شعبان وبلغنا رمضان

(Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab, Sya'ban serta sampaikanlah

kami ke bulan Ramadhan)

Doa inilah kemudian oleh para ulama salaf agar kita memperbanyak kebaikan dengan kegiatan apapun termasuk shodaqoh yang berfungsi sebagai penghapus dosa,penolak bala dan penambah kebaikan.
Sedangkan kalimat unggah-unggahan mempunyai makna dibulan ramadahan diharapkan umat Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan dalam istilah al-qur’an Fastabiqul Khoerot  agar pahalanya bertambah dan bisa mendapatkan hasil yang maksimal sebagai bekal hidup didunia dan akherat.Istilah unggah-ungahan tidak diiringi dengan udhuhn-udhunan mengandung arti bahwa kebaikan itu jangan sampai ada kemunduran karena kalau seseorang mengalami kemunduran beramal sholeh maka termasuk orang yang celaka (lihat Kitab Nashoihul Ibad tentang alamat syaqowah).
2.       Mempererat siaturahiim dengan kerabat dan tetangga dengan sodaqoh
Kehidupan bertetangga merupakan fitrah manusia untuk bersosialisasi dengan sesama manusia  terlebih pada kerabat.kesibukan harian ternyata memungkinkan seseorang untuk jarang bertemu dengan tetangga dan kerabatnya,moment ramadhan membangkitkan persaudaraan nasab dan tetangga ,sehingga sangat baik untuk mengundang mereka sekaligus bershodaqoh .Rasullah dalam hadisnya  . Shodaqoh yang termasuk dalam kategori shodaqoh-shodaqoh yang disunnahkan. Tujuan dari shodaqoh adalah membantu orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan mendesak serta meringankan beban oang-orang yang kesulitan secara finansial, sebagaimana hadits Rasulullah saw : “Setiap muslim harus bershodaqoh. Mereka bertanya,’Wahai Nabi Allah bagaimana dengan orang yang tidak punya?’ Rasulullah saw bersabda : ‘Hendaklah ia berusaha dengan tangannya sehingga dapat menguntungkan dirinya lalu ia bershodaqoh.’ Mereka bertanya lagi :’Jika tidak ada? Rasulullah saw bersabda,’Hendaklah ia membantu orang yang memiliki kebutuhan yang mendesak serta mengharapkan bantuan.’ Mereka bertanya, "Jika tidak ada?" Rasulullah menjawab, ’Hendaklah ia melakukan kebaikan dan menahan diri dari kemunkaran. Sesungguhnya hal ini adalah shodaqoh.” (HR. Bukhori).
Dari hadits ini, bisa difahami bahwa shodaqoh bisa diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan untuk meringankan kesulitan-kesulitannya. Namun demikian, yang lebih utama adalah shodaqoh tersebut diberikan kepada keluarga, kaum kerabat kemudian tetangga sekitar, berdasarkan firman Allah swt : “Kepada anak yatim yang mempunyai hubungan kerabat. “ (QS. Al Balad : 15) serta hadits Rasulullah saw : “Jika salah seorang diantaramu miskin, hendaklah dimulai dengan dirinya, jika ada kelebihan maka untuk keluarganya, jika ada kelebihan lagi untuk kerabatnya.” Atau beliau bersabda : “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu.” (HR. Ahmad dan Muslim). (http://www.eramuslim.com/ustadz)
3.       Meminta maaf kepada sesama
Salah kemulyaan dari bulan Rajab,bulan Syaban dan bulan Ramadhan adalah bulan rajab sebagai pembersih hati  dan masa tanam bulan Syaban adalah bulan pembersih badan ,masa pemupukan dan bulan Ramadhan  adalah bulan perbersih ruh dan panen.Saat menjelang Ramadhan adalah saat yang tepat untuk membersihkan hati  dan badan dari kesalahan hablun minallah dan hablu minas.Hablu minnallah dengan bertaubat dan Hablu minas dengan bermaaf-maafan sesama manusia.Unggah-unggahan adalah sarana yang pas untuk berkumpul dan saling bermaaf-maafan dengan tetangga dan kerabat.
4.       Mengirimkan doa kepada ahli kubur
Dalam tradisi ahlu sunnah wal jamaah biasanya acara unggah-unggahan mesti dilakukan pembacaan kalimat Tayyibah ( Tahlilan) untuk mengirimkan pahalanya ke para ahli kubur dan tentunya ada shodaqoh yang juga pahalnya untuk ahli kubur.
                Dari bebrapa yang sudah disampaikan diatas,tentunya kita tidak boleh memandang sebelah mata atau menganggap bahwa unggah-unggahan adalah sesuatu yang melanggar syariat ,karena banyak makna dan pembelajaran yang ada pada cara tersebut,termasuk persiapan llahir dan bathin mengadapi datangnya bulan suci Ramadlan .

Tidak ada komentar: